Raja Setiap kali nonton film

| | Comments (2)

Raja

Setiap kali nonton film di bioskop di Thailand, sebelum film diputer penonton diminta berdiri untuk memberikan penghormatan pada raja. Pada saat penghormatan tsb, akan diputar trailer dan lagu kebangsaan untuk Raja. Trailer dibuka dengan foto-foto Raja, ketika Raja naik tahta, menjenguk rakyat sakit, menyentuh tangan seorang tua, melompati jembatan di sungai kecil dan di berbagai kegiatan dengan kamera selalu tergantung di dadanya. Foto-foto Raja diselingi klip rakyat Thailand berbagai kalangan yang sedang memberikan sikap penghormatan (sikap sawasdee/wai), nelayan di laut sambil menatap matahari senja, anak sekolah yang memeluk erat foto raja, sekumpulan anak muda (dengan pakaian gaya) tertunduk di kuil, dan wajah orang2 tua yang penuh cinta pada Raja. Betapa rakyat Thailand mencintai dan menghormati sosok Raja ini.
Sedangkan lagunya adalah hymne kebangsaan khusus raja yang, seperti umumnya lagu kebangsaan, terdengar khidmat dan indah. Di salah satu bioskop, lagu itu dinyanyikan ala acapella dengan irama yang lambat2 dan syahdu. Menyesakkan dada.

Tradisi ini, mungkin mirip dengan menyanyikan lagu kebangsaan pada acara2 pertandingan olahraga di Amerika. Dan herannya, meski sudah belasan kali nonton film di bioskop Thailand, tetap saja tiap kali gue masih terkagum-kagum dan merasa terharu dengan acara penghormatan ini. Bisa jadi karna trailer yang ada (tiap jaringan bioskop, trailernya beda2) selalu indah.. juga aransemen dan pembawa lagu yang khidmat dan menyentuh. Ini ada lirik, terjemahan (bebas ala gue) dan file mp3 dari hymne ini.

King's Anthem

Kami, abdi setia Yang Mulia, Memuja dengan sepenuh hati, Pada Sang Pelindung Kerajaan Tertinggi , Raja teragung, Sempurna dengan kebajikan, Dibawah peraturanmu yang adil, Kami abdimu, Menerima perlindungan dan kebahagiaan; kemakmuran dan damai; Dan kami berdoa Smoga apa yang dicitakan Yang Mulia Akan selalu terpenuhiKha wora Phutta Chao Ao mano lae sira kran Nop Phra-pumi ban boonya direk Ek barroma Chakarin Phra Sayamin Phra Yodsa ying yong Yen sira pruo Phra bariban Pon Phra kunta raksa Praung pracha pen sooksarn Khor bandarn Ta prasong dai Jong sarit Dang, wang, wora hareutai Dutja tawai chai chaiyo.

Perasaan 'cinta raja' seperti ini, salah satu yang bikin gue sirik dan cemburu dengan negara Thailand ini. Mereka punya Raja, seorang tokoh pemersatu bangsa yang dicintai dan mencintai rakyat. Sedikit aja seseorang (apalagi orang asing) mengatakan hal yang kurang baik tentang Raja, orang Thai terdekat akan merasa marah dan sakit hati. Seorang teman gue dari Vietnam pernah ngalamin hal kayak gini, padahal maksud dia bercanda. Kebayang kan, gimana sang Raja ini selalu di hati rakyatnya? Bener-bener sirik gue dibuatnya. Meski waktu SD dulu gue tau, kalo Pancasila adalah 'alat pemersatu bangsa', tapi susah rasanya untuk bisa benar-benar merasakan itu. Dulu, tanpa gue sadari, bertahun2 gue pernah mencintai sosok Presiden Soeharto, Bapak Pembangunan Indonesia. Seseorang yang terlihat arief bijaksana, memberi rasa aman dan cukup membanggakan karena disegani di luar negeri. Rasa cinta itu harus berubah menjadi sedih, menyadari 'ketidak sempurnaan' beliau yang mengakibatkan kerugian dan sakit hati orang banyak. Di hari-hari kejatuhan beliau, gue salah satu orang yang cukup bersedih karena beliau adalah satu2nya tokoh negarawan Indonesia yang tertanam dan mengakar di diri gue (ya iya lah, belajar PMP kan dari SD, udah gitu gue orangnya sentimentil apa2 dimasukin ke hati). Benci tapi rindu, hehehe, begitu kira2 perasaan gue pada beliau itu.

Raja Thailand saat ini adalah, masih sama dengan yang tercantum di buku PSPB gue kelas 3 SD, King Bhumibol Adulyadej atau King Rama IX. Beliau lahir di Massachusett, Amerika tahun 1927 dan naik tahta tahun 1946 karna raja sebelumnya, yang juga saudara kandungnya, terbunuh. Umur 19 tahun artinya. Saat itu dia meminta untuk menyelesaikan terlebih dahulu juga mengubah major studinya dari 'Science' ke 'Political Science & Law' di Swiss sebelum menjalankan fungsinya sebagai raja. Setelah itu beliau kembali ke Thailand, dan menjadi raja yang menghabiskan waktu bertahun2 untuk keluar masuk wilayah pedesaan2 di kerajaan Thailand untuk bertemu, bicara dan mendengarkan rakyatnya. Seperti di dongeng2 aja ya. Dari situ sang Raja bahkan bisa bikin beberapa teori dan konsep tentang jaringan irigasi yang sampai sekarang memajukan dunia pertanian Thailand. Selain kegiatannya sebagai raja, beliau juga seorang musisi, bisa main saksofon dan karya2nya banyak dipublikasikan. Dia juga bisa melukis, menulis buku, memahat (bahkan bisa bikin kapal kayu segala) dan hobi fotografi juga. Kalo liat dokumentasi foto2 raja, selalu terlihat kemana2 dia bawa kamera, mereknya Canon. Publikasi yang bagus tuh buat Canon :)

Terakhir, walopun gue terkesan banget sama King Rama IX ini, gue tetep termasuk orang yang berjiwa patriotik. Ngga mudah untuk mengingkari rasa cinta gue sama tanah air dan berpaling dari Indonesia, ada atau ngga ada seorang tokoh pemersatu bangsa Indonesia. Gue hanya betul2 merindukan sosok pemersatu bangsa Indonesia yang benar2 memberi ketenangan pada rakyatnya. Mungkin ngga suatu saat kita punya ya?

2 Comments

aulia said:

Pancasila adalah 'alat pemersatu bangsa'

yang gw tau pancasila bukan alat!!!

Anonymous said:

dhtgnjnnihjn;ggybvcjgvvtvcvvbn

Leave a comment

About this Entry

This page contains a single entry by published on June 3, 2003 11:01 AM.

Ke Toko Kacamata Minggu lalu was the previous entry in this blog.

Ngunyah Es Batu Apakah diantara is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01