Kompromi

3 bulan lalu, gue ngobrol ngalor ngidul dng Men, mantan temen sekelas gue dulu yang skr udah lulus dan jadi peneliti di kampus gue. Saat itu kita lagi ngobrolin tentang rumah keluarga Men yg letaknya ga jauh dr kampus tetapi terletak di seberang jalan raya. Rumah ini dulunya ditempati Men saat masih kuliah S1 di universitas tetangga, namun semenjak lulusan dan Men tinggal di dalam kampus, rumah tsb disewakan untuk orang lain. Men ceritanya sih sedikit ngomel, karna yang nyewa sebelumnya ingkar janji, yang tadinya mau sewa selama 1 tahun ternyata baru 3 bulan udah keluar dengan alasan pulang kampung, yg mana Men curiga bahwa sebetulnya dari awal penyewanya ini memang berniat sewa 3 bulan aja, tp karna takut ngga dikasih sewa jangka pendek dia bilang bakal sewa setahun. Akibat ketidakjujuran ini, Men bertekad, ngga akan mau nyewain rumahnya ke orang Bangladesh lagi seperti penyewanya terdahulu itu.
Selang 2 bulan, gue denger rumahnya ini belum laku disewa juga walopun segala jenis iklan sudah ditempuh, baik lewat iklan dinding di seputar kampus maupun promosi lewat mulut ke mulut. Sampai suatu waktu, gue ketemu dng seorang laki2 Bangladesh saat makan siang di kafetaria kampus. Dia baru bekerja sbg peneliti di kampus, dan lagi nyari info ttg tempat tinggal di luar kampus untuk keluarganya karna saat ini semua akomodasi dalam kampus untuk staf sudah penuh. Saat ini dia numpang di rumah sesama warga Bangla, sementara dia nyari akomodasi di luar kampus yang tidak jauh dan tidak terletak diseberang jalan raya.
Walaupun gue tau lelaki ini ngga ingin rumah yang terletak diseberang jalan raya, tapi gue ceritain juga tentang rumah sewanya Men. Awalnya lelaki itu ngga tertarik, dia bilang istrinya pasti keberatan tinggal disana.
Namun setelah gue cerita bahwa rumah itu punya 2 kamar, dengan ruang tamu, dapur, kulkas dan furniture yang lengkap, dia akhirnya nyatet nomer telepon gue juga (karna saat itu gue lupa nomer telepon Men).
Hanya beberapa jam setelah pertemuan, lelaki Bangladesh itu nelpon gue untuk mendapatkan nomer telepon Men. Dan sorenya, tanpa sengaja gue ketemu Men dan lelaki itu di lapangan parkir. Rupanya, Men baru saja nganterin lelaki itu untuk melihat lokasi rumahnya itu. Dan seperti yang gue tebak, pertemuan sore itu berlanjut dan berakhir dengan bahagia. Istri lelaki Bangla itu ternyata senang sekali dengan rumah Men, walaupun letaknya diseberang jalan raya. Dan Men, tentu saja dia pun senang sekali ada yang tertarik menempati rumahnya setelah sekian bulan kosong, meskipun lagi2 orang Bangladesh. Sehingga, perjanjian sewa-menyewa akhirnya dilakukan juga.
Memang seringkali kita harus berkompromi dengan keinginan2 kita. Ngga semua akan berjalan dengan apa yang kita inginkan/rencanakan, terutama hal2 yang berkaitan dengan pilihan. Sehingga kita perlu menurunkan standar, membesarkan hati untuk menerima keputusan yang dikompromikan demi kelancaran hidup kita selanjutnya.
Tapi hati2 juga dengan kompromi, karna untuk hal2 yang prinsip tentunya ngga ada kompromi!
:)

Leave a comment