July 2004 Archives
Selamat ulang tahun kang enda,
nu pang-nyaahna - pang kasepna - pang bageurna sadunya,
Parek rejeki jauh balahi nya kang…
Semoga kebahagiaan selalu menyertai,
Tercapai segala cita-cita, dan
Selalu diberi kemudahan dalam lindungan-Nya.
Today I want to thank God once again,
for bringing you to me.
Cause it’s you who make me happier
than I ever thought I could be…
And if you let me,
I will spend the whole my life
trying to make you feel the same way…
Happy birthday with love hon…
Seperti halnya orang2 Sunda yang suka bilang ‘mah’, ‘atuh’, ‘teh’ di akhir kalimat, atau orang Indonesia yg suka bilang ‘lho’, ‘deh’, ‘nih’, dll di sela2 percakapannya; orang Thai juga punya kata ‘na’, ‘kha’ atau ‘khap’ yg biasanya dipake di akhir kalimat.
Kata ‘na’ ini biasanya untuk mempertegas, sedang ‘kha’ atau ‘khap’ meski ngga ada artinya tapi kalo dipake diakhir kalimat memberi nuansa sopan. ‘Kha’ jika yg berbicara perempuan, dan ‘khap’ untuk laki2. Jadi misal, gue mau bilang ‘Thank you’, dengan gaya Thai jadi:
‘Thank you na..’ atau kalo mau lebih sopan ‘Thank you na kha…’
Umumnya orang2 Thai, ngga ragu2 untuk mengobral ‘kha’ dan ‘khap’ ini, hampir semua orang hobi berbicara dengan diakhiri dengan ‘kha’ dan ‘khap’ ini, ngga mesti untuk orang tua seperti halnya bahasa halus di bahasa daerah di Indonesia. Makanya suka terkesannya sopan2 orang Thai teh.
Cukup banyak temen2 Indonesia yang udah kepengaruh dengan gaya English-Thai ini, termasuk gue. Kayanya kalo ngomong apa aja, suka dikasih imbuhan ‘na kha’ dibelakangnya.
‘Sorry na kha’
‘Never mind na kha’
‘One minute na kha’
‘OK na kha?’ <— judul lagu yang beken banget di Thai 3 taun lalu :D
dst
Karna ‘kha’ dikhususkan untuk perempuan dan ‘khap’ untuk laki2, jenis kelamin seseorang bisa ditentukan dr cara dia bicara. Di Bangkok sini, ngga sedikit cowo2 yang udah ganti kelamin atau ganti kepribadian menjadi perempuan. Demikian sebaliknya, cewe yang ke-cowo-cowo-an juga relatif lebih sering gue temuin disini dibanding di Bandung. Dan biasanya para cowo/cewe yang sudah pindah kepribadian (meski secara fisik belum berubah), lebih suka dianggap sebagai cewe/cowo.
Jadi, kita harus agak hati2 ketika ngegunain kata ‘she’, ‘he’, ‘miss’ atau ‘sir’ (bahasa Inggris) ketika berbicara dng yg bersangkutan atau temennya.
Soalnya gue lumayan sering juga ketemu orang yang susah banget ditentuin jenis kelaminnya. Karna, seperti yg gue bilang, bukan sekedar fisik sih tapi yang penting bagaimana masing2 orang itu pengen dianggap.
Seperti salah seorang pegawai receptionist di hotel kampus yang kebetulan gay (peran cewe-nya), meski dandanannya seperti layaknya cowo tapi dari gaya rambut, make up, jalan, bicara, halus banget deh udah kayak cewe. Dan yang terpenting dia selalu bicara dengan akhiran ‘kha’ : ‘Thank you kha’, ‘You’re welcome kha’. Hehehe.. jadi meski secara fisik cowo (minimal berjakun), tp di hatinya adalah cewe.
Ada juga cewe yang kerja di kantor imigrasi kampus, kalo liat dandanannya persis cowo pekerja: rambut cepak, kemeja kerja cowo, celana pantalon plus ikat pinggang. Tapi kalo denger suara dan kehalusan wajahnya sih cewe banget. Tapi ya itu, setiap bicara selalu diakhiri dengan ‘khap’ dengan tegas dan berwibawa, yang artinya dia sudah dengan sadar menunjuk dirinya cowo gitu :)
Jadi, kapan2 ragu tentang jenis kelamin orang Thai, tanya aja sesuatu… dan lihat bagaimana responnya.
:)
Pagi tadi gue baru aja nyelesaiin presentasi progress exam untuk term Mei 2004 ini. Sbg doktoral student di kampus AIT, stiap term (4 bulan) gue memang diwajibkan untuk bikin laporan kemajuan pekerjaan dan mempresentasikannya di depan semua anggota komite penguji disertasi. Oya, tak lupa kuucapkan terima kasih buat kang tinus-nya ninin yg udah minjemin laptop berhubung ruang exam gue ga (belum) dilengkapi komputer, tas laptopnya keren banget sih!?
Kapan2 gue ceritain proses yang harus ditempuh untuk nyelesaiin program doktoral di kampus gue, sebagai inspirasi buat temen2 semua yang mungkin berminat pengen melanjutkan studi. Satu hal yang pasti, makin kesini yang namanya mahasiswa doktoral itu ngga musti ‘aneh’, ‘serius’ atau ‘kutu buku’, karna trendnya adlh akan jauh lebih ‘cool’ ketika seorang kandidat doktoral itu juga ‘funky’ dan pinter sosialisasi :), tentunya dng tetap konsisten di risetnya.
2 minggu terahir, bisa dibilang gue (mencoba) konsentrasi penuh dengan penyusunan laporan kemajuan ini. Seperti semua mahasiswa, tentunya gue juga pengen komite gue puas dengan apa yang gue kerjain selama 4 bulan ini. Dari laporan kemajuan ini kan kelihatan apa gue cuman blogwalking plus bukain friendster, atau ngeblog plus chatting melulu atau bisa melakukan semuanya dengan seimbang…hehehe.
Di tengah kesibukan nyiapin laporan ini, minggu lalu, tanpa tertahankan gue juga baca novel The Da Vinci Code, karangannya Dan Brown. Rada aneh gue teh, pada level kesibukan tertentu biasanya akselerasi meningkat ketika ada kerjaan lain sbg selingan :P
Dan kebetulan novel nya juga bener2 menarik dan sempet dianggap kontroversial. Critanya tentang pembunuhan kurator di museum Louvre (Paris) yang berkaitan dengan sebuah secret society Priory of Sion (jadi inget grup lawak ngga? hehe) yang mempunya misi khusus. Judul The Da Vinci Code merepresentasikan sandi lewat karya2 Leonardo Da Vinci yang ditinggalkan oleh sang kurator sebelum meninggal, yg harus dipecahin ama cucu perempuannya dan seorang ahli simbol untuk menguak misteri dibalik pembunuhannya itu.
Baca buku ini, bikin gue nyadar, bahwa jenis media penyampai informasi tuh emang ngaruh banget ya. Kalo materi ttg tetek-bengek karya2 da vinci itu gue baca di diktat kuliah misalnya, dalam hitungan menit dipastikan gue udah ngantuk plus lupa; karna minat gue sebetulnya ngga terlalu besar sama lukisan.
Tapi karna baca dari novel, dimana banyak intrik2, gue jadi gampang ngerti dan sampe skr masih bisa ngebayangin apa aja yang ditulis disitu: makna dari bbrp sudut di tiap lukisan, ekspresi wajah2 yang ada di lukisan Da Vinci, sampe berapa jumlah orang di lukisan ‘The Last Supper’.
Jadi bikin gue mikir nih, mungkin ntar gue musti bikin novel atau komik atau apa gitu (yg pasti media populer) sbg metoda ngajar nanti, minimal utk ngasih ide awal. Dan, mimpinya sih ntar hasil disertasi gue mau ditulis versi novel atau naskah film, dilengkapi dengan konflik2, konspirasi, kisah cinta segitiga dan OSTnya biar tambah menarik dan bisa dipahamin orang awam, hehehe. Doakan saja ya.
:)
Terinspirasi dr email pak Armein Z.R. Langi dan Pak Sigit Haryadi di milis dosen dan ngedenger pemberitaan2 resmi (media online, bukan selebaran email2 gelap) pra dan pasca Pemilu 5 Juli 2004, gue jadi pengen berkomentar seputar Pemilu Presiden 5 Juli 2004 lalu :
1. Gue agak kesal dengan banyaknya pernyataan2 tentang ‘rakyat yang masih bodoh’ sehubungan dengan hasil pemilu 5 juli lalu. Sejujurnya gue salut untuk rakyat yang sudah berani memilih ca-pres/wapres sesuai nuraninya, ngga kepengaruh meski pemilu legislatif lalu Golkar dan PDI yang menang. Di setiap hati kita pasti punya bayangan, wajah, yang ingin dipilih sbg presiden dan itulah yang dipilih saat pencoblosan lalu. Ngga peduli meski dipertanyakan ke-islam-an, ke-golkar-an, ke-PDI-an atau ke-reformis-an nya. Jadi mari hargai dan hormati hasil pilihan rakyat ini.
2. Mungkin aja sebelumnya terlihat Wiranto, Megawati atau Amin Rais yg lebih banyak pendukungnya, tapi mungkin ngga sih itu hanya ‘kelihatan di permukaannya’ saja? Saat sendiri di bilik pemilih ngga mesti nyoblos seperti yang orang lain lihat kan?
Ngga sedikit orang2 meradang dengan SBY yg memimpin hasil perolehan pemilu skr2, padahl bisa jadi kemenangan itu karena simpati org2 karna beliau yang paling banyak mendapat fitnahan dr sesamanya selama musim kampanye :) *nyambung ga ya :P
3. Gue cukup tertegun melihat komentar2 belakangan ini (pasca 5 Juli) dari Tim Sukses AR-SY (belakangan PKB juga ikut rame), yang mempersoalkan Quick Count, Tabulasi Nasional, rekayasa KPU, KPU berhenti ngitung, dsb.
Buat gue, rakyat berhak SEGERA tahu hasil pemilu. Kalau ga ada laporan semacam ini dr KPU, malah bisa timbul kecurigaan. Masak mau lihat hasil tabulasi dari tim2 ngga resmi lain, untuk pembanding OK lah tapi sejauh ini sistem KPU yang paling jelas dan resmi pula. Kesannya: “Saya ngga akan terima hasil resmi dari KPU kalo ga sesuai maunya saya”.
4. Ada semacam keheranan (khususnya dr pendukung dan tim sukses AR) mengapa suara yang dikumpulkan AR-SY tidak banyak (hanya 15%). Gue justru heran, kenapa sampe punya estimasi berlebihan? Sepertinya tim AR-SY ga bisa membaca keadaan dengan baik. Juga, 15% itu besar sekali (20 juta-an kali klo dr total pemilih). Sewajarnya bersyukur untuk setiap suara yang telah tulus memilih AR-SY. Bayangin, 20 juta ini adalah kekuatan raksasa yang nyata untuk membangun masyarakat.
5. Satu hal lagi, jangankan rakyat, PKS saja (sempat) ragu-ragu untuk mendukung AR-SY. Sempat bingung ga sih melihat PKS yang sempat-sempatnya mau mendukung Wiranto? Walau akhirnya dukungan PKS datang, meski sudah sangat terlambat. Kasihan pemilih PKS.
6. Kalau sampai tim sukses AR kemudian jadi menganjurkan golput di tahap ke 2 (mudah2an engga), lengkaplah kerusakan yang ditimbulkan bagi eksistensi pak Amien yang sangat bernilai di pentas demokrasi Indonesia.
Sebelum ini gue respek banget dengan AR dan tim sukses AR, yang bisa ngebuat banyak simpatisan setia di berbagai kalangan. Tapi skr, tim sukses AR-SY seperti yang kocar kacir panik kebakaran jenggot. Bikin gue mencoba memakluminya sbg pelampiasan kekecewaan dan kesedihan pihak yang kalah.
Sekian deh Curhat Pasca Pemilu nya. Tumben ya gue ngomongin politik. Tenaaaang aja, anda2 ngga pada nyasar ke Blog Pemilu kok… ;)
Kalo rada2 sentimentil, ngaco atau apalah gitu, yaahhh… namanya juga curhat.
:)
Udah jadi kebiasaan mahasiswa Indonesia di kampus AIT utk ngumpul di rumah temen yang mau pulang ke Indonesia sebelum yg bersangkutan berangkat ke bandara. Asiknya selain yg ngumpul jadi bisa menghibur yg mau pulang (kan sedih ninggalin AIT, hehe) juga bisa bantu2 angkat barang ke taksi/kendaraan yg akan berangkat ke airport, dan terakhir jadi bisa foto2.
(klik diatasnya untuk memperbesar foto)
Seperti Sabtu 26 Juni 2004 lalu, ketika kita harus ngelepas keluarga Pak Widi: Ibu Tery, Dhita dan Sekar. Jam 10 pagi, semua udah ngumpul di tempat pak Widi. Barang2 udah siap di-pack dengan rapi dan siap diangkat, two-thumbs-up buat manajemen-paking yang baik dr Ibu Tery :) Abis itu om-om pada mindahin barang2 besar yang belom diangkatin. Kayak Om Tinus, Om Enda dan Om Nopie pada akting ngangkut mejanya Ibu tuh, sebelum diangkat beneran ke rumahnya Tante Pippie. Hehehe.. bagus ya aktingnya? ;) Abis itu koper-koper juga diangkut ke pick-up barang.
Setelah semuanya beres, lalu kita foto bareng terakhir kali di depan SV23A. Rame banget ya.. sampe rasanya sepeda berserakan dimana-mana :) Ngga lupa, anak-anak juga bikin photo-session sendiri di dalem rumah. Siapa aja ya itu dhit..? Dhita - Aulia -Faqih - Tia - TemenSekar 1 - TemenSekar 2 - Anggi - Sekar - Raisha - Angga - Ibu.
Abis itu kita semua pada ke bandara, Alhamdulillah masalah bagasi beres ya dhit, ngga perlu kena denda macem2 karna udah diatur jauh2 hari ya sama Bapak ke Garuda. Trus kita masih sempet ngobrol2 dan main2 sama Abel dan Tante Rini juga.
Oh iya, ini foto gank kita: Tante Rini - Sekar - Dhita - Tante Nita, dan buku Little Prince kenang2an buat Dhita dan Sekar (udah dibaca belum?) Itu novelnya kan ngga tebal dhit, jadi harapannya dhita dan sekar ngga bosen bacanya…Oya, trus masih ada ngga gelang persahabatan kita yg dr tante Rini (di foto cuman yg tante Nita pake yg kelihatan). Itu untuk mengingat suatu hari, jalan2 di Pahurat, bareng tante2 yang sempet kalap liat kain2 India yg murah2, hehehehe
Duh ngga kerasa ya, dhita-sekar sekeluarga udah harus boarding. Kita semua dadah-dadah sampe di depan gerbang periksa paspor. Abel sempet ngambek karna ngga diajakin sama mbak dhita dan sekar masuk ke dalem.. hehehe.. Gimana, perjalanannya lancar ngga?

Abis dari bandara, tante nita, om enda, tante rini, om tinus, abel, vito, om pandu, om rama, om nopie, tante pippie, bang joy dan bang jami pada piknik di Lumpini Park. Cerita dan fotonya bisa diliat di blognya tante rini ini ya. Oya, itu ada satu lagi, fotonya Om-om dan Abang-abang di deket patung Raja di lumpini park, hehe.. katanya sih bergaya boysband, tapi ngga mirip ya dhit.. skar? Asik juga lho main2 di taman lumpini ternyata.. sayang kita belom sempet main bareng kesini yaa… Yeah, hope someday will be yaa..!
Eh confession
Hmmm…I’m gonna miss you girls for sure, our sweet memories will always remained. AIT won’t never be the same without you two, sweethearts…
:)
